Category: Uncategorized


Belajar Mengemudi May 16, 2008 armie Leave a comment Go to comments Kira2 sudah seminggu ini istri belajar (lagi) mengemudi mobil setelah beberapa tahun yang lalu pernah kursus. Tidak tanggung2, kursus mengemudi intensif 😉 . Bayangkan, dimulai setelah sholat shubuh, kira2 setengah jam keliling2 komplek tempat kami tinggal, hingga sorenya setelah pulang kerja mengikuti kursus mengemudi dengan seorang instruktur. Niat saya adalah istri bisa mengemudi sendiri. Tidak masalah mobil nabrak2 dikit sehingga timbul baret2 kecil, tapi hasil dan target akhirnya tercapai. O ya, berikut adalah tips2 belajar mengemudi yang disarikan dari http://bima.ipb.ac.id/~anita/kursus_stir_mobil.htm. Mudah2an bermanfaat, terutama buat saya pribadi sebagai instruktur kursus mobil dadakan 🙂

Urutan pedal :

Kopling (selalu kaki kiri yang menginjaknya),

Rem dan Gas (pakai kaki kanan secara bergantian)

Menghidupkan mobil dalam keadaan kopling di gigi nol 1) Pasang tali / sabuk pengaman 2) Putar kunci untuk menghidupkan mesin 3) Hidupkan AC 4) Turunkan Rem Tangan 5) Injak kopling habis, pindahkan gigi ke gigi 1 6) Angkat kopling pelan2 7) sambil Injak gas sedikit demi sedikit sampai terasa mobil bergerak Memundurkan mobil 1) Injak kopling habis, pindahkan gigi ke gigi R 2) Angkat kopling pelan2 Rasakan sampai mobil terasa bergerak mundur. Atur bergerak mundurnya mobil dengan cara menginjak dan mengangkat kopling (jangan lebih dan jangan mengangkat terlalu cepat agar mesin tidak mati) Ganti gigi pada saat mobil berjalan (kaki kanan masih menginjak gas) 1) Injak kopling habis 2) Angkat gas 3) Pindahkan gigi ke posisi yang dikendaki 4) Angkat kopling pelan2 5) Injak gas pelan2, sampai terasa jalannya mobil stabil sesuai dengan kecepatan seharusnya 6) Lepaskan kaki dari kopling, atur jalannya mobil hanya dengan menginjak dan mengangkat gas saja Jika melalui polisi tidur 1) Angkat gas, tempel pedal rem 2) Injak kopling habis, pindahkan ke gigi 1 3) Angkat kopling pelan2, mobil dijalankan hanya dengan mengangkat kopling sekuku, biarkan saja mobil bergerak memakai lumpsum nya 4) jika dirasa polisi tidur terlalu tinggi, Injak gas sedikit sampai dirasa mobil bisa melewati polisi tidur 5) Setelah dapat melewati polisi tidur injak gas pelan2 Menambah/mengurangi gigi 1) Injak kopling habis 2) Angkat gas 3) Pindahkan gigi ke gigi yang dikehendaki 3) Tempel gas 4) Angkat kaki dari kopling pelan2 Menghentikan mobil tiba2 dalam keadaan mobil sedang berjalan cepat 1) Injak rem pelan2 sampai terasa mobil berhenti 2) Injak kopling habis 3) Pindahkan gigi ke gigi 0 4) Angkat rem tangan Menghadapi macet di lampu merah menggunakan rem 1) Injak kopling habis 2) Tempelkan kaki di rem (mainkan sesuai keadaan jalan) 3) Pindahkan gigi ke gigi 1 3) Angkat kopling sedikit demi sedikit untuk menjalankan mobil merayap atau injak saja kopling habis biarkan mobil berjalan menggunakan lumpsump nya Menghadapi macet di lampu merah tanpa menggunakan rem, atau ketika hendak keluar dari gang ke jalan raya 1) Injak kopling habis 2) Tempelkan kaki di rem 3) Pindahkan gigi ke gigi 1 3) Angkat kopling sedikit demi sedikit untuk menjalankan mobil merayap 4) atau injak saja kopling habis biarkan mobil berjalan menggunakan lumpsump nya 5) Tempel kaki di gas Berhentikan mobil: 1) Angkat kopling sekuku dan injak rem sedikit (tempel rem) 2) Jalankan mobil merayap: Angkat kopling sekuku 3) Dengan posisi ini mobil akan berjalan merayap Belok balik (berputar balik 180o) ke kanan 1) Jika mobil melaju terlalu cepat, tempel gas 2) Injak kopling habis 3) Angkat gas 3) Pindahkan gigi ke gigi 1 4) Angkat kopling sedikit demi sedikit untuk menjalankan mobil merayap (=bergerak perlahan), dan injak kopling sekuku kalau ingin mengurangi jalan merayapnya mobil, lihat jalur apakah bebas jika ada mobil yang ingin lewat maka injak lagi kopling sekuku sambil menempel rem atau menempel gas (sebaiknya dipilih memberhentikan mobil dengan menempel gas agar jika mau jalan lagi tinggal lepaskan gas dan angkat kopling saja sekuku). Jika jalur sudah bebas hambatan, angkat kopling sekuku (mobil merayap maju) 5) Putar stir 2 x ke kanan (putar stir habis) (ingat jangan memutar stir dalam keadaan mobil diam/berhenti, bisa merusak komponen mobilnya nanti) lihat jalur apakah bebas atau tidak – Jika jalur aman, jalankan/belokkan mobil dengan mengangkat kopling sekuku (mobil akan maju merayap), kurangi laju jalannya mobil dengan menginjak kopling sekuku – Jika jalur sibuk berhentikan mobil dengan kombinasi mengangkat kopling sekuku dengan menempel rem (biasanya jika kopling diangkat sekuku akan terasa mobil bergetar sedikit) – Jika jalur sudah bebas kembali ankat kopling sekukumkembali (mobil akan merayap maju kembali) 6) Setelah mobil berhasil belok dan dirasa sudah lurus, segera putar balik stir 2x ke kiri sambil mobil maju merayap – Jika mobil sudah lurus, tempel gas (sesuaikan dengan kondisi lalu lintas), angkat kopling perlahan, jika sudah sesuai dengan kondisi jalan yang dihadapi lepaskan kaki dari pedal kopling biarkan jalannya mobil hanya diatur oleh gas (gunakan gigi 1, 2, dan 3 saja jika berada di dalam kota) Menghidupkan mobil yang mati mesin tiba2 1) Jangan panik 2) Injak kopling habis 3) Angkat kopling perlahan2, rasakan sampai mobil bergerak maju perlahan – Jika jalan menanjak, bantu tenaga mobil dengan menginjak gas sedikit – Jika mobil sedah bergerak stabil, angkat kaki dari kopling, jalankan mobil hanya dengan gas saja Macet di jalan tanjakan 1) Gigi dalam posisi gigi 1 (sebaiknya selalu gunakan gigi 1 kalau jalananmacet) 2) Injak kopling habis 3) Angkat kopling perlahan2, rasakan sampai mobil bergerak maju perlahan Jika jalan menanjak, bantu tenaga mobil dengan menginjak gas sedikit Jika mobil didepan berhenti di tanjakan , injak kopling habis, injak rem Jika mobil di depan mulai bergerak sedikit di jalan tanjakan , angkat kopling perlahan, rasakan sampai mobil bergetar (agar mobil tidak mundur ketika melapas rem), baru lepaskan rem, tempel gas Jika mobil di depan berhenti lama, injak rem, injak kopling, pindahkan gigi ke gigi 0, angkat rem tangan, angkat kaki dari kopling. Jika mobil di depan mulai bergerak maju, injak habis kopling, tekan rem tangan, injak pedal rem, masukkan gigi ke gigi 1, angkat kopling sekuku sampai mobil terasa bergetar sedikit (agar mobil tidak mundur), tempel gas Tanjakan tanpa menggunakan rem 1) Gigi dalam posisi gigi 1 2) Injak kopling 3) Angkat kopling sekuku (mobil akan bergerak maju perlahan, MOBIL BERJALAN) 4) Injak kopling sekuku diimbangi dengan menginjak/menempel gas sedikit (mobil akan berhenti, MOBIL BERHENTIi) 5) Angkat kopling sekuku (mobil akan merayap maju kembali, MOBIL BERJALAN) Untuk berjalan atau dan berhenti dalam posisi ini hanya menggunakan kombinasi injak dan angkat kopling sekuku Tiba2 ada orang menyeberang 1) Angkat gas 2) Injak rem 3) Injak kopling habis Macet di jalan rata 1) Gigi dalam posisi gigi 1 2) Injak kopling habis 3) Angkat kopling perlahan2, rasakan sampai mobil bergerak maju perlahan Jika mobil di depan berhenti tiba2, injak rem perlahan atau angkat kopling sekuku sambil injak gas sedikit Kombinasi kopling dangan gas ketika mobil didepan berhenti tiba2 lebih baik digunakan sehingga kalau mobil di depan maju tinggal angkat kopling sambil tempel gas. Jadi maju dan berhentinya mobil hanya menggunakan kombinasi kopling dan gas. Jika mobil di depan mulai bergerak maju sedikit, injak kopling habis, lalu angkat kopling sekuku rasakan mobil mulai maju merayap Jika mobil di depan mulai berhenti perlahan, angkat kopling sekuku, injak gas (rasakan sampai terasa mobil berhenti perlahan). Jika mobil di depan berhenti lama, injak rem, injak kopling, pindahkan gigi ke gigi 0, angkat rem tangan, angkat kaki dari kopling. Jika mobil di depan mulai bergerak maju, injak habis kopling, tekan rem tangan, masukkan gigi ke gigi 1, angkat kopling sampai terasa mobil maju jika perlu boleh tambahkan dengan menginjak gas Macet di jalan turunan 1) Gigi dalam posisi gigi 0 2) Mainkan rem saja tak perlu gas karena mobil akan berjalan dengan sendirinya tanpa di gas Mobil sedang melaju cepat tiba2 mobil didepan jalan merayap 1) Injak rem perlahan 2) Injak kopling habis, pindahkan ke gigi 1 3) Angkat kopling sekuku biarkan mobil maju merayap 4) jika mobil di depannya berhenti tinggal menginjak kopling lalu angkat sedikit kombinasikan dengan menginjak gas sampai mobil terasa berhenti perlahan, atau injak kopling dan tempel rem Menghentikan mobil tiba2 dalam keadaan mobil sedang berjalan pelan 1) Injak kopling habis 2) Tempelkan kaki di rem, rasakan sampai mobil terasa berhenti secara perlahan2 (jangan menginjak rem terlalu cepat) 3) Pindahkan gigi ke gigi 0 3) Angkat rem tangan Berhentikan mobil ketika mundur 1) Angkat gas 2) Injak rem perlahan2 3) Injak kopling habis Melambatkan jalannya mobil ketika mundur (Mobil berjalan merayap) 1) Posisi gigi di R, angkat gas, tempel rem 2) Injak kopling, angkat/lepas rem 3) Angkat kopling sekuku Perhatikan ! Jika sudah dapat berhenti dengan kopling + tempel gas, maka jika gas ditambah sebesar apapun mobil tak akan bergerak Parkir maju 1) Lewati mobil badannya 2) Belokin stir 3) Jalankan mobil pelan2 kopling diangkat pelan2 sekuku Mundur/parkir ke kanan 1) Putar stir habis ke kanan 2) Mundur merayap 3) Putar balik stir 4) Mundur lurus Parkir mundur ke kanan 1) Injak kopling habis 2) Pindahkan gigi ke R 3) Tempel rem 4) Mundur lurus 5) Jalankan mundur perlahan dengan pola: jalan mundur pelan – berhenti – jalan – berhenti -jalan dengan cara: Injak kopling sekuku, tahan, lalu angkat lagi kopling sekuku, tahan 6) Mata lihat ke kaca spion 7) Perhatikan: Mundur mobil harus diusahakan lurus segaris dengan trotoar Jika pantat mobil sudah sampai di ujung jalan atau kurang sedikit dari ujung jalan tempat parkir maka Injak kopling. Putar stir habis kekanan 2 x putaran 9) Angkat kopling sekuku 10)Jika jalan menanjak bantu tenaga mobil dengan menginjak gas 11)Jika kira2 mobil sudah masuk, luruskan mobil dengan cara injak kopling 12)Putar balik stir 2 x ke kiri 13)Angkat kopling sekuku agar mobil bisa masuk pas ke dalam tempat parkir Jika ingin parkir tepat di pinggir maka mobil dibelokkan kurang sedikit pantat mobil dari ujung jalan (lebihkurang sebesar 1 x badan manusia) Jika ingin parkir agak ke tengah (jika tempat parkir agak besar) maka start mobil di belokkan pas di ujung jalan belokan itu 14)Injak kopling 15)Tempel rem 16)Pindahkan gigi ke gigi 0 17)Angkat rem tangan 18)Lepaskan kaki dari kopling dan pedal rem 19)Matikan AC, copot sealt belt, matikan mesin mobil, ambil kunci dan simpan, gembok stir mobil, buka pintu Jika kita salah perhitungan ketika membelokkan mundur mobil, maka 1) Injak kopling 2) Pindahkan gigi ke gigi 1 3) Majukan mobil sedikit, jika kira2 sudah lurus (kontrol dengan cara mengatur ban mobil agar lurus dengan cara putar balik stir) 4) Mundurkan mobil dengan cara Injak kopling, pindahkan ke gigi R, angkat kopling sekuku tahan, angkat lagi sekuku tahan, injak sekuku tahan, begitu seterusnya sampai posisi mobil benar2 masuk Jangan lupa melihat kondisi jalur jalan sebelah kanan dan kiri serta belakang melalui kaca spion Perhatian : 1) Stir tidak boleh diputar dalam keadaan mobil diam karena bisa merusak ban dan poros ban 2) Kalau jalan menanjak dan jalanan macet agak lama di tanjakan maka pakailah rem tangan jangan selalu mengandalkan kopling sebab kalau tidak dapat merusak mekanik kopling 3) Rem kaki tidak boleh ditekan terus tapi harus dengan pola angkat, injak, angkat, injak (misalnya ketika turunan) sebab dapat menyebabkan rem terbakar 4) Pakailah selalu gigi 1 jika melalui jalan yang berlubang2 5) Untuk perjalanan dalam kota yang ramai dianjurkan untuk selalu menggunakan gigi 1 dan 2 saja 6) Kuasai emosi ketika berjalan lambat setelah berjalan cepat 7) Gigi 1, 2, 3 untuk jalan lambat dan tanjakan Gigi 4,5 tak kuat jika digunakan untuk jalan tanjakan 9) Untuk menghindari mesin mati tiba2 maka angkatlah kopling pelan2 jangan menyentak dan sekaligus 10) kopling berguna untuk jalan menanjak, macet, belok, start awal berjalan, mundur, belok/memutar mobil, dan parkir 11)Gigi 3 untuk jalan raya besar 12)Gigi 2 untuk jalan raya kecil/sempit TIPS : 1) Bagian mobil yang tidak boleh kena air ketika mencuci mobil: tempat busi, dan tempat injection 2) Mesin hendaknya dibersihkan dengan minyak tanah jangan dengan air, karena mesin cepat karatan jika kena air 3) Jika mengganti oli minta dibersihkan juga: busi, saringan udara minta disemprot sebab saingan udara yang kotor berpengaruh terhadap pemakaian bahan bakar 4) Sampai jalan 50.000 km mobil baru masih aman karena service masih ditanggung dealer 5) Jika stir ngebuang maka harus di balanching dan di spooring 6) Seminggu sekali sebaiknya ganti air aki 7) Tune up jangan terlalu sering 8) Saringan bensin dibersihkan dengan ditiup agar tidak cepat kotor 9) Bensin jangan dibiarkan sampai habis karena kotoran bisa naik 10)Mencuci mobil jangan memakai rinso tapi pakailah shampoo mobil 11)Setelah jalan 75.000 km biasanya ban harus diganti 12)Jangan terlalu banyak main setengah kopling jika lampu merah pakai rem tangan saja karena dapat membuat mesin panas. Sebab bisa membuat kanvas kopling tipis sehingga mobil akan terasa kurang tenaga meskipun sebenarnya mesin baik2 saja. Output mesin akan terbuang sia2 karena salah satu penyalurnya tidak berfungsi dengan baik. Jika penipisan pada kanvas kopling sudah amat parah maka mobil tidak bisa melaju sama sekali. Fungsi kopling adalah meneruskan tenaga dari mesin ke persneling (tansmisi) Menginjak kopling setengah memang perlu sebagai penyeimbang agar mesin mobil tidak mati saat di-rem atau waktu pertama kali kendaraan melaju. Cuma, seharusnya jangan terlalu lama dan jangan terlalu sering. Satu lagi, begitu selesai perpindahan gigi, langsung lepas pedal kopling. Yang sulit dihindari adalah saat jalanan macet. Kebanyakan pengendara lebih memilih menginjak pedal kopling setengah ketimbang cara lain. Salah satu cara yang kami sarankan adalah melaju perlahan dengan gigi satu. Andai pun terpaksa harus berhenti karena antrian mobil, lebih baik posisikan netral sekaligus dan injak rem. Sehingga, pedal kopling bisa dibebaskan. Ketika kopling diinjak, kaitan antara mesin dan persneling akan terputus sehingga praktis output mesin tidak sampai ke penggerak roda. Digeber-geber pun laju kendaraan tidak akan berubah. Laju roda akan terpengaruh begitu kopling dilepas. Sebab, pada saat pedal kopling dilepas, plat penekan (matahari) akan menekan kanvas sehingga power dari mesin (melalui fly wheel) dapat bergerak menuju persneling. Pada saat kopling ditekan setengah, maka tenaga dari mesin melalui fly wheel yang diteruskan ke persneling pun hanya setengah. Posisi kanvas juga setengah menghubungkan. Posisi inilah yang membuat terjadinya gesekan antara kanvas kopling – fly wheel – matahari. Gesekan-gesekan ini yang akan mempercepat tipisnya kanvas kopling 13)Panaskan mobil tiap hari selama 10 menit

Iklan

pc station

Overview
Di dalam Perkembangan Komputer Begitu Pesat, telah ditemukan sebuah gebrakan yang Revolusioner dalam teknologi komputer yaitu memaksimalkan kinerja komputer sampai 90% yaitu PC Station.

Orang mengenal nama PC-Station dengan nama beraneka ragam diantarannya : Ncomputing, NetPC, MuStation, OfficeStation atau SmartStation dan lain-lain.

PC-Station
Merupakan terminal untuk client tanpa butuh CPU, Harddisk dan RAM digunakan untuk sharing komputer hingga lebih dari 30 pengguna/User.

Dengan alat ini 1 PC/Komputer bisa digandakan dan di pakai banyak pengguna dengan melakukan/membuka/menjalankan program di Server bisa lebih dari 30 Client/pengguna tanpa mengganggu pengguana/cliet lain.

PC-Station ini menggunakan Teknologi WOIP (Windows Over IP) dan LOIP (Linux Over IP)

Kinerja Komputer secara normal biasa digunakan hanya sekitar 5% saja, maka dengan alat PC Station akan memaksimalkan kinerja komputer hingga 90%.

Beberapa Alasan beralih ke PC-Station:

* Investasi komputer terbaru sangat mahal
* Purna jual komputer memilik nilai rendah
* Razia Software lisence mulai diterapkan oleh pemerintah
* Hardware komputer semakin lama mudah rusak
* Biaya listrik semakin naik
* Perawatan komputer memakan biaya yang tidak murah

Keunggulan pakai PC Station :

* 1 PC bisa digunakan / sharing hingga lebih 30 user dengan melakukan pekerjaan yang berbeda-beda
* Konsumsi daya sangat rendah, hanya 5 Watt (saving cost 80%)
* Tidak perlu perawatan, karena tidak pakai Harddisk, RAM, CPU (saving cost 85%)
* Cukup investasi 1 Lisence software pada Server (saving cost 90%)
* Mengurangi investasi dan Upgrade Komputer (saving cost 70%)
* Ukuran yang kecil dan tipis akan bisa menghemat tempat ( saving area 65%)

Cocok digunakan untuk :

* Perorangan / Rumah Tangga
* Warnet
* Lembaga Pendidikan
* Lab. Komputer
* Tiketing
* Pabrik
* Biro Travel
* Perkantoran
* Supermarket / Mini Market
* Rumah Sakit
* Rental Komputer
* Instansi Pemerintah / Swasta
* Perpustakaan Digital
* Dll

Fungsional :

* Masing-masing user bisa mengoperasionalkan program secara sendiri-sendiri tanpa mengganggu user lain
* Server dapat mengontrol Client
* Setiap Client memiliki IP sendiri
* Hanya butuh Keyboard, Mouse, Monitor dan Speaker pada Client

Hardware Tambahan :

* Keyboard, mouse dan monitor
* Tersedia USB port dan speaker
* Switch atau Hub terminal

.
Diposkan oleh Cak Misbach Link ke posting ini
PC-STATION NC230

Diposkan oleh Cak Misbach Link ke posting ini
PC-STATION SPESIFIKASI
PC-STATION NC230 SPECIFICATION

Maximum workstations

Bisa lebih dari 30pcs

Jarak

Tidak ada batasan

Perlu cards

Tidak perlu cards

Koneksi

Koneksi kabel Network UTP

System support

Windows 2000 professional edition,

Windows xp home/ professional edition,
Windows xp media center edition,

Windows 2000 server edition,
Windows 2003 server edition with linux system

Support film

Tidak

Support USB memory

Ya

Remote visit

Ya

Color range

16 bit

Resolution

640×480, 800×600 , 1024×768 , 1280×1024

MUSTATION NC230 Operating System Support:

* Windows 2000 professional/server
* Windows XP home/professional
* Windows 2003 server

Specification:

1. Power Supply : AC100V ~ AC250V 50 / 60 Hz, 5V / 2A
2. Ukuran : 242mm (W) x 40mm (H) x 133mm (D)
3. Weight : 700g (NC230)
4. Windows for “Power”, “LAN”, “Ready” status
5. Port : USB flash memory, DC Power Jack, Speaker Jack, PS2 Keyboard Port, PS2 Mouse Port, Ethernet (RJ- 45) Port, VGA Monitor Port.
6. Protocol : WoIP (Windows over IP), LoIP (Linux over IP)
7. Supported OS : Windows 2000 Professional, Windows XP Home, Windows XP Professional, Windows XP Media Center, Windows 2000 Server, Windows Server 2003, Linux
8. Approval : CE, FCC class B
9. Remark : Monitor, Keyboard, Mouse, Speakers are separate

PC STANDART VS PS-STATION

PERBANDINGAN

PC STANDART

PC-STATION
BIAYA

– 1 Komputer untuk 1 user, setiap komputer butuh min 250 Watt.
– Ganti Hardware dan Software setiap 2-3 tahun

– 1 Host bisa untuk 30 user, setiap komputer butuh 5 Watt
– Ganti Hardware dan Software hanya di Host
SECURITAS

Mebuka celah data bisa terinfeksi Virus

Securitas Terpusat Hanya di Host
PERAWATAN
Perlu Mengontrol Setiap User

Hanya perlu Mengontrol Host
LINGKUNGAN
Suara Noise dari : CPU, Harddisk, CD-ROM, Kipas

Lingkungan Kerja yang nyaman , tanpa noise dan tanpa panas
PORTABLITY

Hanya bisa di pasang tapi tidak bisa portable

Bisa Portable karena bentuk yang sangat ringkas dan bisa di pasang dimana saja selama ada Host

HOST PC RECOMENDASI

Jumlah User

1-3
user

4-6
user

7-10
user

11-20
user

21-30
user
CPU Konfigurasi Intel Pentiu4 2.4GHz above Intel Pentium4. 2.8GHz above Intel Pentium4 3.0GHz above Intel Pentium4 3.2GHz above XEON 3.4GHz above
Memory Konfigurasi 512 MB above 512MB above 1GB above 2GB above 3GB above
HD running speed 7200RPM above 7200RPM above 7200RPM above 10000RPM above 10000RPM above
Diposkan oleh Cak Misbach Link ke posting ini
PC-STATION SHOW

Diposkan oleh Cak Misbach 0 komentar Link ke posting ini

TALIWANG—Penerapan peraturan bupati (Perbup) Nomor 9 tentang prioritas tenaga kerja lokal bagi perusahaan yang beroperasi di Sumbawa Barat masih jauh dari harapan. Hal itu terungkap melalui sejumlah temuan panitia khusus (pansus) tenaga kerja selama dua bulan terakhir. Sekretaris pansus tenaga kerja Abdul Hadi Al Habsy kemarin mengungkapkan banyak perusahaan yang beroperasi di KSB belum sepenuhnya melaksanakan termasuk PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) maupun perusahaan sub kontraktornya. ‘’Kalau mengacu pada perbup tadi tenaga kerja lokal yang diberdayakan di perusahaan tersebut masih jauh dari harapan,’’ katanya.

Masa tugas tiga pansus termasuk pansus tenaga kerja sudah berakhir. Kesimpulan akhir dari pekerjaan yang dilakukan selama dua bulan tinggal disampaikan pada rapat paripurna dewan pekan depan.

Data pansus tenaga kerja, pekerja lokal KSB yang terserap di perusahaan tambang tembaga dan emas asal negeri paman sam itu hanya 34 persen dari total seluruh tenaga kerja yang ada. Newmont berdalih pada jaman gubernur Harun Al Rasyid kesepakatan 60 persen tenaga kerja lokal yang dimaksud itu adalah NTB. ‘’Kalau lokal NTB diluar KSB itu sekitar 31 persen, kalaupun ditotal dari lokal KSB dan lokal NTB secara keseluruhan itu mencapai 65 persen. Naik lima persen dari perjanjian sebelumnya,’’ paparnya.

Sementara presentasi untuk pekerja nasional sendiri menempati angka cukup tinggi mencapai 35 persen. Sementara penerapan Perbup Nomor 9 oleh perusahaan sub kontraktornya benar-benar masih sangat jauh dari harapan. Khusus sub kontraktori, antara pemda KSB melalui Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disosnakertrans) terjadi selisih data yang cukup siginifikan. Terakhir pada Maret lalu, Disosnakertrans menyampaikan ke pansus bahwa jumlah sub kontraktor PTNNT hanya 107 sementara jumlah keseluruhan sub kontraktor yang ada mencapai 149. ‘’Jadi ada selisih data 42 perusahaan, dan saya yakin Disosnakertrans sendiri tidak punya data valid untuk jumlah sub kontraktor, apalagi mengenai presentasi tenaga kerja lokal,’’ sindirnya.

Diakui Hadi, tidak seluruh perusahaan sub kontraktor mampu diklarifikasi. Pansus yang hanya memanggil sebagian saja, namun dari pemanggilan itu bisa dijadikan sampel bahwa penyerapan tenaga kerja lokal KSB masih rendah. ‘’Memang tidak semua kita bisa klarifikasi, karena terbentur agenda dewan yang lain, tapi paling tidak bisa ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar sub kontraktor tidak melaksanakan Perbup Nomor 9,’’ sesalnya.

Itu baru pada satu persoalan saja, sementara mengenai jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek) pansus juga menemukan beberapa persoalan. Diantaranya banyak perusahaan tidak menjalankan kewajibannya memberikan jamsostek kepada tenaga kerja. Bahkan persoalan ini masih menjadi konflik tersendiri didalam perusahaan. ‘’Apa yang menjadi temuan kami ini akan menjadi catatan penting pada kesimpulan akhir pansus,’’ paparnya.

Khusus Disosnakertrans juga akan menjadi catatan penting pansus, dimana selama ini pansus melihat SKPD bersangkutan tidak memiliki data valid mengenai jumlah perusahaan tadi. ‘’Kita belum tahu, tapi yang jelas Disosnakertrans seperti tidak serius dan tidak punya data valid mengenai jumlah perusahaan,’’ tandasnya.

Tujuan pembentukan pansus sendiri lanjut wakil rakyat utusan PKS ini bukan semata-mata ingin mencari kesalahan Newmont maupun pemda KSB. Tugas pansus lebih pada membuka persoalan yang ada dan mencari titik temu sehingga kedepannya masalah tersebut bisa segera diatasi. ‘’Ini semata-mata untuk perbaikan. Jangan hanya melihat kesalahan orang lain, sementara kesalahan di internal sendiri tidak mampu diperbaiki,’’ tambahnya.(far)

 

PENAMBANGAN EMAS LIAR ……..!

Desa Hijrah Kecamatan Lape Kabupaten Sumbawa digemparkan dengan membludaknya penambang liar. Olat (bukit) Labaong yang selama ini menjadi salah satu hutan/sumber mata air bagi penduduk disekitarnya ternyata memiliki kandungan emas yang cukup banyak. Hal ini terbukti dengan maraknya penambang emas tradisional berbondong-bondong mengerumuni olat labaong layaknya semut yang menggerogoti gula. Bukan hanya penduduk setempat yang melakukan kegiatan penambangan, namun banyak juga penambang yang datang dari luar daerah kabupaten sumbawa, misalnya Lombok Timur, Bima, Dompu, Jawa Barat dan Sulawesi dll. Warga Kecamatan Moyo Hilir juga tidak mau kalah saing, setiap hari mereka rela menempuh jarak 20 km ke desa hijrah kemudian berjalan kaki mendaki bukit setinggi 500 meter di atas permukaan laut ke areal penambangan dengan kemiringan bukit 45 drajat. Diperkirakan sekitar 3000 lebih penambang yang sudah membuat sekat/wilayah tambang masing-masing di olat labaong kini sedang marak-maraknya beroperasi. Dengan peralatan seadanya berupa palu, linggis dan peralatan lain yang digunakan untuk menggali batu dari atas bukit, para penambang bahu-membahu membuat lubang-lubang dan terowongan di atas bukit. Sejauh ini, menurut hasil tinjauan kampung media lubang yang terdalam sudah mencapai 5 meter kedalaman dengan diameter lubang 1 meter. Batu-batu yang diperkirakan mengandung emas, kemudian di bawa ke tempat penghancuran dengan cara dipikul dari atas bukit. Proses ini tidak menjadi masalah bagi para penambang walaupun setiap kali penghancuran batu mereka dikenakan biaya 60ribu rupiah oleh pemilik mesin penghancur. Proses penghancuran batu itu sendiri menggunakan mesin yang mereka sebut Mesin Gelundung. Setelah batu-batu itu hancur sampai menjadi abu kemudian disaring dengan mengubakab ayakan, lalu dicampurkan dengan air raksa dengan kadar 90% untuk mengetahui kandungan emas dari batu-batu tersebut. Sejauh ini, hasil yang sudah didapatkan oleh penambang berbeda-beda. Saudara Ryan Ando misalnya, warga Desa Moyo Mekar Kecamatan Moyo Hilir ini sudah mendapatkan 12 Gram emas murni. Padahal ia hanya melakukan penambangan selama dua hari saja. Sedangkan harga emas yang ditawarkan langsung oleh pembeli di lapangan adalah 300ribu rupiah per gram. Sungguh pendapatan yang fantastis dan baru pertama kali dirasakan oleh saudara Ryan Ando jika dibandingkan dengan penghasilan mengojek sepeda motor yang sudah bertahun-tahun ia lakoni. Dilain sisi, masyarakat disekitar mendapatkan berkah tersendiri. Terutama dari segi ekonomi atau pendapatannya. Setiap orang yang naik ke Olat Labaong di tarik biaya 5ribu rupiah sedangkan yang membawa turun batu dari atas bukit hasil penambangan di kenakan biaya 10ribu rupiah. Sangat menjanjikan dan membantu ekonomi masyarakat pengelolah baik di tempat parkir dan karcis untuk masuk ke lokasi penambangan. Selain itu, pedagang bakulan keliling juga memanfaatkan situasi ini dengan menjajahkan makanan dan minuman ke areal penambangan dengan harga yang lumayan tinggi. Misalnya nasi bungkus yang harga 5ribu ripiah naik menjadi 10ribu rupiah, air minum botolan yang harganya 2.500 rupiah naik menjadi 5.ooo rupiah perbotol, harga rokokpun naik 2xlipat. Hal ini harus menjadi perhatian penuh dari Pemerintah. Apakah kegiatan ini akan dibiarkan begitu saja tanpa ada pengawalan dan pengawasan dari Pemerintah karena bukan hanya di Olat Labaong saja akan beroperasi kegiatan serupa, bahkan sekarang di wilayah Olat Cabe Kecamatan Moyo Hilir dan Moyo Utara penduduk setempat sudah berencana menggali seperti yang dilakukan di olat Labaong. Keterangan yang kami peroleh dari Camat Moyo Hilir Bapak Varian Bintoro, S.Sos sehabis shalat jum’at, menurut beliaudiperkirakan diseluruh Kecamatan se-Kabupaten Sumbawa kecuali kecamatan Sumbawa olat (bukitnya) mengandung kadar emas walaupun jumlahnya berbeda. Situasi ini kalau tidak segera di tangani langsung oleh pemerintah dengan cara penertiban ataupun cara-cara bijak lainnya, misalnya penambangan itu ditutup untuk sementara waktu hingga ada kesepakatan dengan penduduk lokal tentang sistem pengelolaan hasil yang baik sehingga tidak merusak lingkungan alam maupun sosial. Untuk itu, perlu ada sosialisasi dari pemerintah ke masyarakat tentang larangan penambang liar karena sudah jelas dalam pasal 33 ayat 1 menyatakan bahwa “bumi, air, udara dan kekayaan alam lainnya adalah milik negara dan dipergunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat” Pemerintah harus cepat mengambil tindakan dan pengelolaan langsung oleh pemerintah sebagai aset dan pendapatan Daerah karena jangan sampai masyarakat penambang saja yang mendapatkan manfaat, jadi masyarakat luas bisa merasakan manisnya hasil dari kekayaan alam. Baik dengan peningkatan pembangunan infrastruktur jalan, sekolah, rumah sakit maupun penciptaan lapangan pekerjaan.

JOMPONG SUAR
Ratusan tahun yang lalu tersebutlah seorang pemuda bernama Jompong Suar wajahnya tampan tubuhnya kekar berisi walaupun umurnya baru menginjak lima belas tahun. Dari penuturan orang, keluarga Jompong Suar adalah keluarga pendatang. Mereka bukan asli dari desa itu. Ayahnya bernama Pandelala dan ibunya dipanggil orang Dendelawi.Dahulunya mereka hanya sekedar mengungsi akibat terusur dari tempat asalnya.

Jompong Suar tiada beradik kakak. Ia adalah anak tunggal. Tidak mengeherankan kalau ia menjadi anak yang manja. Permintaanya kerap dikabulakan hampir tidak pernah ditolak. Kepadanya harapan masa depan orangtuanya ditumpahkan. Namun pada diri Jompang Suar terdapat watak yang kurang baik. Ibarat kata pepatah, tiada gading yang tak retak. Ia suka sekali mengganggu anak – anak di dasarnya. Tak jarang menampar dan memukuli anak – anak seumurnya. Kelakuannya tidak saja mengusik tetapi bahkan merampas dan menjarah sesuatu yang bukan miliknya sering pula dilakukan. Akibatnya teman sebabnya menyingkir dan menjauhinya.

Tentang kelakuan Jompong Suar yang tidak baik itu telah banyak diberitahukan orang kepada ayahnya. Tetapi ayahnya tak pernah mengindahkan. Pandelala malah mengelak tuduhan itu dan selalu membela Jompong Suar.

Ketua adat di desa itu mencela sikap Pandelala. Tentang itu mereka semua berujar.

“Pandelala adalah sosok orangtua yang tidak bijaksana, sikap yang harus dihilangkan pada setiap orang. Membela yang salah pada gilirannya kebatilan bertambah subur. Kebenaran semakin luntur. Benar dan salah saling membentur Keadilan makin terkubur, hati nurani menjadi hancur. Sikap itu harus dihentikan”. Demikian tekad mereka.

Tetapi tabiat Jompong Suar tak kunjung berubah walaupun berkali – kali mendapat teguran dan diingatkan orang kepadanya orang desa menyindir, “kecil teranja – anja besar terbawa – bawa setelah tua takkan berubah”. Keluh orang tua, “Tak dibilang jadi binasa, dibilang juga jadi bencana”. Karena tak tahan lagi maka mufakatlah beberapa orang kampung untuk melaporkan kelakuan buruk Jompong Suar kepada Sang Raja.

Kedatuan (kerajaan) Sadiwangi mempunyai wilayah cukup luas. Ke Utara sampai ke Ai Sempang yaitu desanya Jompong Suar. Sedang ke selatan berkesudahan dengan pantai laut. Kedautan ini diperintah oleh seorang Datu (Raja)yang bernama “Buntar Buana”. Baginda raja dikenal tegas dalam pendiriannya. Keamanan dan ketenteraman rakyatnya adalah masalah utama yang sangat menjadi perhatian raja. Siapa saja yang berbuat onar atau kerusuhan, pertengkaran, perampokan, baginda raja tidak segan – segan memberikan hukuman berat terhadap pelakunya. Baginda menginginkan agar rakyatnya dapat melakukan setiap usaha mereka dengan perasaan tenang tiada dihantui rasa takut dan was – was. Sistem keamanan lingkungan sangat diperkuat. Lebih – lebih setelah peristiwa sedih menimpa istana.

Sekitar setahun yang lalu putri bungsu baginda yang bernama Mandang Wulan hilang dari istana. Tidak diketahui kemana perginya. Apakah dilerikan orang ataukah telah tewas tiada seorangpun yang  tahu. Ke seluruh penjuru kerajaan telah dilakukan pencarian namun tak seorangpun yang dapat memberikan petunjuk dimana Mandang Wulan berada. Inilah yang membuat baginda raja selalu masygul.

Pada suatu petang yang cerah tiada awan selembarpun menutupi langit. Angin semilir menerpa dedaunan menambah kesejukan di sore itu. Paduka raja bersama beberapa hulubalangnya sedang asyik berbincang – bincang. Baginda raja selalu mengaharapka agar seluruh penghuni istana tetap berupaya menemukan putri Mandang Wulan, hidup atau mati. Dan jika ditemukan supaya dibawa pulang ke istana.

Tiada lama setelah bincang – bincang selesai, masuklah seorang penjaga istana dan langsung mengharapka baginda. Setelah menghatur sembah, penjaga istana itupun berkata.

“Hamba datang untuk melaporkan bahwa di luar istana ada empat orang tamu yang ingin menghadap baginda”, kata penjaga istana.

“Bawalah mereka masuk”. Jawab baginda singkat

Setelah empat orang tamu itu bersimpuh di depan raja, salah seorang berkata.

“Ampun tuanku. Hamba berempat datang dari tempat yang jauh dengan maksud mohon perlindungan baginda yang mulia”, katanya dengan nada penuh harap.

Sambil memandang kepada tamu itu, bagindapun berkata. “Dari manakah kalian berempat ini, dan apa maksud kalian datang ke istan petang – petang begini?. Jika ada kabar penting sampaikanlah, mungkin dapat segera diselesaikan”, kata paduka raja.

“Benar tuanku. Hamba datang dari Desa Ai Sempang, yaitu desa di ujung utara kerajaa baginda. Adapun maksud kedatangan hamba dan kawan – kawan adalah untuk melaporkan bahwa di desa kami ada seorang pemuda bernama Jompong Suar yang selalu menggangu ketentraman di desa kami dan juga ketentraman anak – anak kami”. Kata salah seorang diantara mereka. ”Perbuatan pemuda itu tiada sekedar menggangu tetapi telah sampai kepada merampas dan menjarah barang – barang anak – anak kami tuanku. Mohon perlindunga tuanku”, sambungnya dengan sopan.

Mendengar laporan itu, paduka raja berucap. “Baiklah laporan kalian aku terima. Dan aku percaya bahwa kamu semua benar dan tidak membohongi kami. Besok pemuda itu akan kupanggil. Dan sekarang kamu berempat pulanglah”, kata baginda. Setelah itu keempat orang yang melapor itu pun keluar meninggalkan istana pulang kembali ke Ai Sempang.

Demikianlah, kesesokan harinya tatkala sang surya naik sepenggalah, dibawalah Jompong Suar beserta ayahnya mengahadap paduka raja. Ibarat pesakitan di depan hakim, keduanya duduk bersimpuh.Tiada berapa lama Paduka Raja berucap.

“Hai kalian berdua, manakah di antara kalian yang bernama Jompong Suar?”, tanya baginda. Kemudian Jompong Suar memandang baginda dan menjawab.

“Ampun tuanku. Hambalah yang bernama Jompong Suar dan inilah ayah hamba bernama Pandelala”, kata Jompong Suar.

Baginda raja memandang tajam kepada keduan tamunya tiu. Baginda kemudian berucap.

“Dengarkanlah oleh kalian berdua. Ketenteraman adalah idama semua orang. Perusuh dan penjarah adalah musuh semua orang pula. Beberapa orang telah datang ke istana melaporkan kelakuan yang tidak terpuji”. Kata Raja. Baginda raja berheti sejenak lalu katanya:

“Jompong Suar, engkau adalah perusuh, perampok, bahkan besok kamu akan menjadi pembunuh yang kejam. Engkau telah bersalah besar. Dan terhadap kesalahanmu, mulai hari ini juga engaku kuperintahkan untuk mencari dan membawah ke istana sebatang bambu berbatang perak, berdaun emas, dan berbunga intan. Itulah hukumanmu sebagai perusuh. Bila kau mendapatkannya aku akan memberiakan hadiah sangat berharga kepadamu. Tetapi jika engkau kembali dengan tangan hampa maka hukuman lebih berat lagi akan kau terima”, kata Baginda tuntas.

Bagai petir menyambar di siang bolong rasanya setelah Jompong Suar mendengar putusan sang Raja. Hampir saja ia jatuh pingsan, untung saja ayahnya cepat memegang pundaknya. Ia bangkit dari tempat duduknya setelah tangannya diangkat untuk segera pergi dari ruangan itu.

Dalam perjalanan pulang tak henti – hentinya Jompong Suar menghela nafas pertanda kesal atas putusan yang dijatuhkan kepadanya, Sebentar – sebentar ia mengeluh memikirkan hukuman yang berat itu. Ayahnya segera menenangkannya. Kata ayahnya:

“Wahai anaku, sabarlah meneriama putusan itu. Yakinlah di balik kesulitan akan datang kemudahan”, kata ayahnya.

“Memang benar apa yang ayah katakan dan anakda akan rela menghadapi cobaan itu. Hanya saja putusan itu terlalu kejam, tidak adil, dan tidak sebanding denga kesalahan yang anakda lakukan”, kata Jompong Suar kesal.

“Sudahlah Nak”, kata ayahnya.”Tidak baik jika terlalu menyesali nasib”, lanjut sejenak. Mereka berdua terdiam sesaat. “Ketehuila anakku bahwa sang Raja sungguh sangat kuasa. Dan karena kekuasaannya seringkali memberikan putusan tidak didasarkan atas pertimbangan, tetapi kadang – kadang lebih kepada kepentingan. Sebaiknya segera saja kau laksanakan”, bujuk ayahnya.

Pada suatupagi sebelum matahari terbit, keluarlah Jompong Suar dari rumahnya setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya. Dipeluknya ayah dan ibunya. Lepas dari pelukan kedua orangtunya. Jompong Suar sekali lagi membungkuk memberi hormat kepada orangtua yang di cintainya itu. Sekarang Jompong Suar telah memulai pengembaraanya. Sang ayah mengiringi dengan doa, sedang ibunya tak kuasa berucap apa – apa selain isak tangis yang memilukan memikirkan nasib yang akan menimpa anaknya. Kedua orangtua tiu terus mengiringi keberangkatan anaknya dengan pandangan mata, sampai akhirnya Jompong Suar tak terlihat lagi. Kedua orangtua itupun kembali masuk rumahnya.

Hari demi hari, minggu berganti minggu,dan minggupun berganti bulan telah banyak desa didatanginya mencari berita tentang bambu emas itu. Setiap bertemu orang selalu ditanyainya, namun belum seorangpun dapat menunjukinya. Bahkan banyak yang menyatakan keheranannya mendengar putuan raja yang diberikan kepadanya.

Kini Jompong Suar memutuskan untuk mengembara ke hutan rimba dimana pohon bambu banyak tumbuh. Boleh jadi bambu emas itu dapat ditemukan di antara rumpun bambu yang banyak itu. Tak terhitung bukit yang sudah didaki, tak terbilang lembah yang sudah dituruni namun nasibnya belum beruntung. Sekarang badannya terasa sangat letih. Makanan yang sempat dibawanya telah lama habis. Perutnya hanya diisi buah – buahan yang dipetiknya dari pohon – pohon kayu di hutan. Tiada uang ataupun belanja diberikan ayahnya, kecuali hanya sebilah pisau kecil yang terselip di pinggangnya. Di bahunya tergantung sebuah kantong kecil berisikan selembar kain untuk pembalut tubuhnya tatkala kedinginan.

Tiga purnama sudah dilalui namun belum juga ada tanda – tanda dapat menemukan apa yang dicarinya. Untunglah tiada seekorpun binatang buas yang menggangu dalam pengembaraannya. Dalam berbagai kesulitan itu, Jompong Suar tiada berputus asa. Teringat selalu pesan ayahnya bahwa di balik kesulitan akan datang kemudahan. Kalimat ini membuat jiwanya semakin hidup, tulang belulangnya semakin kokoh dan langkahnya kian mantap. Dalam dirinya tumbuh tekad. Semboyannya adalah jauh berjalan banyak dilihat jauh merantau banyak di dapat. Segar dalam ingatanya pepatah yang mengatakan ‘Berlayar sampai ke pulau, berjalan sampai ke batas’.

Pada suatu siang, di tengah belantara yang tidak pernah terinjak kaki manusia, udaranya panas, tiada angin bertiup, cahaya matahari seakan membakar persada. Karena sangat letihnya Jompong Suar beristirahat di bawah sebatang kayu. Dalam kepenataannya dia akhirnya tertidur. Beberapa lama Jompong Suar tertidurpulas, tiba – tiba dia serentak bangun. Dalam tidurnya dia bermimpi seolah – olah ada yang memanggil namanya.

“Dari manakah datangnya suara itu? Dan siapakah yang menyebut namaku di belantara yang sesunyi ini? Pikirnya. Jompong Suar seolah – olah merasa yakin bahwa mimpinya itu akan ada maknanya. Perasaanya semakin hidup dan bertekad keras akan mencari dari mana datangnya suara itu. Kemudian ia bangkit dan berjalan. Dilengah keheranannya akan suara panggilan tadi diteruskan juga langkahnya mengikuti irama hatinya. Sebuah batu besar menghalang di depannya. Jompong Suar mendekati batu besar itu, mengintari sekelilingnya untuk meneliti.

Dengan tiada diduga sebelumnya tiba-tiba dilihatnya sebuah gua serangkaian dengan batu besar itu. Perasaanya cemas bercampur takut. Tetapi ia berusaha melawan rasa takutnya itu. Ia memberanikan diri dan berjalan perlahan – lahan menghampiri mulut gua. Dan alangkah terkejutnya ketika Jompong Suar melihat jelas di dalam gua itu berdiri seorang gadis remaja cantik jelita. Jompong Suar tertegun sejenak. Hati dan pikirannya belum percaya dengan pandangan matanya. Diusapnya matanya berkali – kali.

“Apakah aku sedang berhayal?”. “Jika benar apakah gadis itu manusia biasa?”. “Atau barangkali sosok Jin penghuni gua ini?”, demikian macam-macam pikira yang muncul di benaknya Jompong Suar terus dihujani berbagai pertanyaan dalam benaknya. “Kalai gadis ini manusia biasa maka anak siapakah gerangan?”. “Dan mengapa pula dia memilih hidup di tempat yang terasing ini?”, tanyanya kepada dirinya sendiri.

Sebelum berbagai pertanyaan itu terjawab, dengan langkah gontai gadis itu menghampirinya. Dengan suara lembut gadisd itu menyapa.

“Duhai Pangeran!. Sipakah Pangeran sebenarnya?. Dan apakah maksud pangeran datang ke tempat yang jauh, seram, dan angker ini?”, sapanya kepada Jompong Suar. Jompong Suar masih saja terteguh atas segala peristiwa yang dialaminya ini. Ia masih mencoba menyakinkan dirinya bahwa apa yang ada di hadapnya ini bukanlah mimpi. Sambil mencoba untuk menenangkan perasaannya. Sementara itu putri gua yang cantik jelita itu terus menatapnya dengan pandangan malu – malu tetapi penuh harap. Akhirnya Jompong Suar menguasai segenap perasaan dan jiwanya maka barulah ia mencoba menjawab sang putri gua itu.

“Ampun Tuan Putri. Hamba telah berani datang ke tempat ini yang menjebabkan Tuan Putri terusik”. Kata Jompong Suar merendah sebagaimana layaknya seorang rakyat biasa.

“Oh. Tidak apa – apa”, kata gadis itu menghibur. “Saya sangat senang menerima kedatangan Pangeran”, sambungnya.

Kemudian Jompong Suar berbicara. “Tuan Putri, hamba bukanlah seorang Pangeran, hamba bukan dari golongan berdarah biru. Hamba adalah manusia biasa”, kata Jompong Suar menjelaskan kedudukan dirinya. “Nama hamba Jompong Suar anak desa, tuan Puteri.” Setelah mendengar penjelasan itu gadis itupun berkata.

“Wahai kanda Jompong Suar namaku Mandang Wulan. Tetapi panggil saja aku dinda supaya pembicaraan kita lebih akrab”.

Selanjutnya Jompong Suar melanjutka pertanyaan. “Wahai dinda Mandang Wulan. Gerangan apakah sebabnya dinda berada di tempat ini. Jika dinda manusia juga  seperti aku tolong jelaskan kepada kanda siapakah ayah bunda adinda dan di manakah mereka sekarang berada?”.

Sejenak gadis itu terdiam. Matanya berkaca – kaca. Bibirnya yang tipis mungil itu bergetar seolah – olah ia mencoba membendung sesuatu perasaan yang menyesakkan di dadanya. Jompong Suar menatapnys dengan pandangan yang sangat bersahabat, sehingga gadis itu merasa yakin untuk menjelaskan siapa dirinya sebenarnya.

“Baiklah kanda. Akan kuceritakan semuanya. Tetapi sebaiknya kita duduk di dalam saja. Tak baik bercakap sambil berdiri walaupun kita di tengah hutan dan berdua pula”. Gadis itu mengajak Jompong Suar menuju serambi depan gua.

Setelah kedua muda mudi itu duduk berhadapan mulailah Putri Mandang Wulan bercerita. Putri menarik nafasnya dalam – dalam seakan berpikir dari mana akan dimulai ceritanya. Sejurus kemudian ia berkata.

“Kanda Jompong Suar. Di tempat yang sunyi ini aku hidup sebatangkara. Aku bagaikan anak terbuang dan tak obahnya bagai dalam penjara. Tiada ibu ataupun ayah apalagi sanak saudara. Tiada teman tempat mengadu, tiada sahabat pelipur rindu. Hidupku terasa tersiksa walaupun kanda melihatku gembira. Makan nasi serasa sekam, minum air serasa duri. Batinku terkonyak dan harapku hampir punah. Rumahku gua angker ini hendak pergi kemana lagi”. Gadis itu berhenti sejenak untuk menarik nafasnya. Setetes air mata membasahi pipinya yang merah. Bibirnya bergetar. Kembali ia mencoba menenangkan perasaan dan pikiranya. Sesaat kemudian dia melanjutkan kembali kisahnya.

“Satu – satunya yang memberiku hidup di tempat ini ialah seorang raksasa wanita. Dialah pengganti ibuku dan sehari – hari kupanggil nenek”, kata MandangWulan. Tersirap darah Jompong Suar ketika Putri Mandang Wulan menyebut raksasa sebagai nenek.

“Duhai dinda putri jadi engaku ini anak raksasa?. Oh…… kalau begitu sebaiknya aku segera lari dari tempat ini!. “Kata Jompong Suar. Kemudian gadis itu menyambung.

“Tenanglah kanda: dengarlah kisahku sampai selesai. Bukankah sudah ku katakan bahwa aku ini manusia, bukan peri dan juga bukan jin. Aku takkan sampai hati untuk menipumu”, kata gadis itu, lalu kemudian meneruskan pembicaraan.

“Nenekku akan kembali ke gua setelah matahari terbenam. Karena itu tenangkanlah diri kanda. Aku akan ceritakan lebih jauh tentang diriku ini. Kanda, sebenarnya aku ini adalah putri seorang raja. Tetapi aku bernasib buruk. Dahulu sewaktu aku berjalan – jalan di halaman istana tiba – tiba aku disambar oleh seorang raksasa wanita dan membawaku ke tempat ini. Aku meronta – ronta dan minta tolong tetapi waktu itu tak ada yang mendengarku. Tak seorangpun dari penghuni istana mengetahui kepergianku. Sekarang sudah setahun lamanya aku tersiksa di tempat ini, tinggal menunggu saatnya aku kan mati”. Mandang wulan mengakhiri ceritanya. Air matanya deras mengalir. Segala perasaan berkecamuk di dalam batinya. Rindu ayahda dan bunda, rindu saudara – saudaranya. Teringat saat – saat bahagia bersama ayah bunda dan segenap penghuni istana. teringat inang pengasuhnya yang mengurusnya setiap hari. Sekarang selama setahun hati dan jiwanya kosong. Dengan kehadiran Jompong Suar ada setitik harapan di dalam batinnya. Mungkinkah Yang Maha Kuasa telah datang untuk menolongnya.

Iba hati Jompong Suar mendengar penuturan gadis jelita itu. Seperti halnya Mandang wulan, maka sekarang Jompong Suar mencoba mencoba membagi perasaan dengan Mandang Wulan, Jompong Suar mencoba untuk menceritkan dirinya lebih jauh lagi.

“Dinda Mandang Wulan tercinta. Jika demikian halmu maka dengarlah ceritaku”, kata Jompong Suar. Bergetar hati Mandang Wulan menyimak kata – kata Jompong Suar. Ada perasaan lain yang menyejukkan hatinya. Kemudian Jompong Suar melanjutkan kisahnya.

“Aku ini lelaki yang bernasib buruk tak ubahnya seperti engkau juga. Aku dituduh bersalah besar. Paduka raja memberiku hukuman yang berat. Ya hukuman yang sangat berat yang sebenarnya tak kuasa aku untuk melalukannya. Aku diperintahkan untuk mencari sebatang bambu berdaun emas, berbunga intan. Jika aku menemukan bambu itu maka aku akan beroleh hadiah dari baginda Raja, tetapi jika tidak maka aku akan mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi. Telah habis daratan kudatangi tetapi bambu itu tidak kutemukan. Kini aku mencari di hutan rimba. Itulah sebabnya aku sampai ke tempat ini. Jika tiada akupun takkan kembali walaupun ayah dan ibu menungguku kembali. Demikian dinda kisahku sampai aku berada di hadapanmu sekarang ini”. Jompong Suar mengakhiri kisahnya.

Kini mandang Wulan merasa agak tenang dan terhibur. Sekarang setelah hadir di sampingnya seseorang dimana dia dapat membagi duka derita. Ada perasaan senasib, ada kekuatan batin yang menyatu untuk menembus apapun permasalahan dan penghalang dalam hidup ini. Dua kekuatan yang selama ini beku dan hampir mati, kini saling mengisi kekosongan masing – masing.

“Duhai Kanda Jompong Suar. Sama benar nasib kita” kata Mandang Wulan memulai lagi pembicaraan. Kata – kata itu kemudian dilanjutkannya dengan senandung syair yang merdu dari bibir seorang Putri raja.

Hendak ku pulang ke kampung halaman

Namun kemana kucari teman

Ingin bertemu ayah bundaku

Siapa pula sudi membantu

Akan halnya Jompong Suar yang mendapatkan tugas berat untuk memperoleh bambu yang berdaun emas dan berbunga intan, yang akan menentukan hidup atau matinya, itulah yang masih tetap membebani pikirannya. Namu tak disangka – sangka oleh Jompong Suar tiba – tiba saja Mandang Wulan memberikannya harapan.

“Duhai Kanda Jompong Suar. Pucuk dicinta ulam tiba. Segala titah baginda Raja yang dibebankan kepadamu sebagai hukuman itu tentu akan berakhir”, kata Mandang Wulan.

“Oh Dinda Mandang Wulan. Aku tidak mengerti maksudmu”, kata Jompong Suar. “Dengarlah Kanda. Ditempat yang sunyi inilah aku diberi tugas oleh  Nenek raksasa untuk menjaga sebuah bambu seperti yang Kanda maksudkan itu” kata Mandang Wulan melanjutkan.

“Oh. Benarkah kata – katamu Dinda?”, tanya Jompong Suar, tergesa – gesa.

“Benar Kanda, Tak mungkin aku membohongimu. Ayolah Kanda kita kesana untuk mengambilnya”, lanjut Mandang Wulan. Semakin besar harapan Jompong Suar untuk kembali ke kampung halamannya.

Mereka berjalan menuju pohon bambu itu. Jompong Suar tidak menyia – nyiakan waktu. Sebentar saja bambu itu sudah berada di tangannya. Tiada terkira gembira hati Jompong Suar. Ia akan membawah Putri Mandang Wulan pergi ke kampung bertemu dan bersatu dengan orangtuanya. Setelah bambu itu berada di tanganya. Jompong Suar segera mengajak Mandang Wulan untuk meninggalkan tempat itu.

“Wahai Dinda bergegaslah secepatnya. Matahari telah condong ke barat. Sebentar lagi tentu raksasa itu kembali”, kata Jompong Suar. Maka segeralah Mandang Wulan mempersiapkan sesuatu yang mungkin masih dapat dibawanya untuk bekal perjalanan. Terlontarlah harapan kepada Jomong Suar.

“Benar Kanda. Tak tahan aku di tempat ini. Perjumpaan kita yang tak terduga ini adalah petunjuk Tuhan. Bawalah aku kemana saja. Jangan tinggalka aku Kanda. Aku tak ingin berpisah denganmu. Kalau aku harus mati maka biarkanlah aku mati asalkan tetap bersamu, Kanda”, kata Mandang Wulan.

Keduanya segera meninggalkan gua mereka itu. Mereka membawa bambu berdaun emas dan beebunga intan itu. Bambu itu adalah milik Nenek raksasa tidak sebatangpun terdapat di tempat lain. Bambu itu tingginya hanya sehasta, mempunyai empat ruas dan empat pula buku. Pada setiap buku terdapat sebuah tangkai. Dan di ujung tangkai terdapat sebuah daun emas dan masing – masing mempunyai sebuah kuncup yang warnanya berbeda pula. Tangkai pertama berwara hijau dinamakan kuncup angin. Tangkai kedua berwarna putih dinamakan kuncup air. Tangkai ketiga warnanya merah dinamaka kuncup api. Sedangkan yang keempat berwarna kuning dinamakan kuncup tanah. Dari batangnya keluarlah sinar yang indah lebih – lebih di malam hari. Karena itu siang malam kedua remaja itu terus berjalan berkat adanya sinar terang bambu emas itu menjadi penerang jalan yang dilaluinya.

Setelah tiga hari tiga malam lamanya mereka berjalan menyusuri belantara, tiba – tiba pada hari keempat terdengar oleh mereka suara menakutkan. Putri Mandang Wulan maklum bahwa suara itu adalah suara raksasa. Rupanya rakasasa itu sudah mengetahui kalau Mandang Wulan telah menghilang lari meninggalkan gua. Raksasa itu terbang mengitari hutan mencari cahaya bambu emas kepunyaannya. Mandang Wulan telah melihat raksasa itu datang mengejar mereka. Bagaikan akan tumbang pepohonan disebabkan angin kepakan sayapnya. Jompong Suar mulai kuatir akan keselamatan mereka berdua. Namun tidak demikian dengan Mandang Wulan.

“Kanda berikan bambu itu kepada dinda, agaknya kita dalam bahaya”, ucapnya. Segeralah Mandang Wulan meniup kuncup angin. Maka seketika bertiuplah angin yang sangat kencang dan kuat ke arah raksasa itu. Raksasa itu terlempar dan kemudian terhempas ke tanah. Raksasa itu meraung – raung kesakitan.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Namun tidak lama kemudian raksasa itu datang lagi. Kali ini ia lebih geram. Suara teriakannya menggemuruh menggema seolah – olah akan meruntuhkan seluruh pepohonan yang ada. Raksasa itu kini sangat marah. Jompong Suar sangat ketakutan. Mereka berdua terus saja berjalan berlari, sementara itu raksasa terus mengejar. Ketika raksasa itu sudah semakin mendekat maka berkatalah Putri Mandang Wulan.
“Tenanglah Kanda, jangan jauh dari diriku”, kata Mandang Wulan mantap. Sementara raksasa itu terus mendekat. Mandang Wulan kembali meniup kuncup bambu itu. Kali ini yang ditiup adalah kuncup air. Maka turunlah hujan yang sangat deras disertai petir yang menyambar. Hujan yang deras membuat raksasa itu basah kuyup dan menggigil kedinginan lalu tersungkur jatuh.

Putri Mandang Wulan mengajak Jompong Suar mempercepat perjalanan. Gadis itu yakin bahwa raksasa itu tetap akan mengejar mereka. Mereka terus mempercepat perjalanan. Tepat seperti apa yang dikatakan Mandang Wulan, sekarang raksasa itu kembali mengejar. Terdengar di kejauhan suaranya yang gemuruh melabrak pepohonan. Bunyi pohon patah gemeretak dan batu – batu pecah berhamburan dihantam oleh sang raksasa yang kian marah. Mandang Wulan dan Jompong Suar melihat itu datang dari arah yang berlawanan. Rupanya raksasa itu mengambil jalan melintas untuk menghadang dan menyerap kedua remaja itu. Tampak oleh mereka berdua raksasa itu membawah beberapa potong tali.  Suaranya membelah hutan sekitar.

“Sekarang kalian akan mampus. Akan kuikat leher kalian dan akan kubuang kalian ke tengah laut, agar kalian menjadi santapan buaya”, geramnya.

“Cepatlah Dinda, jangan biarkan dia menghampiri kita. Dia sangat berbahaya kata Jompong Suar.

Segeralah Putri Mandang Wulan mengangkat bambu itu tinggi – tinggi sambil berkata.

“Kesempatan ini akan kutamatkan riwayat raksasa itu. Kanda biarlah supaya kita aman menempuh perjalanan ini”, kata Mandang Wulan.

Dengan sekuat tenaga kuncup ketiga dan keempat ditiupnya secara bersamaan. Yaitu kuncup api dan kuncup tanah. Alangkah ajaibnya dari kuncup sekecil itu bersemburan api yang dahsyat melalap rakasasa yang galak dan jahat itu, sehingga menghanguskan sayap dan seluruh tubuhnya. Pekik kesakitan menggelegar dari mulut sang raksasa. Tanah tempat berdirinya terbelah membenamkan tubuhnya hingga batas perutnya. Kendatipun raksasa yang kuat itu berusaha melepaskan diri tetapi jepitan tanah itu seolah – olah semakin kuat saja menjepitnya. Raksasa itu meraung – raung kesakitan. Tulang belulangnya remuk dan seluruh daging di tubuhnya telah hangus terbakar. Akhirnya sang raksasa yang ganas itu rebah ke bumi tiada bangun lagi.

Mandang Wulan merasa terteguh juga. Raksasa yang selama lebih dari setahun dipanggilnya dengan nenek itu kini telah tewas. Adajuga kesedihan yang menyelinap dalam batinnya. Dirinya memang telah dibuat tersiksa oleh raksasa itu. Selama dalam sekapan raksasa itu sang raksasa ternyata tidak pernah menyakiti tubuhnya. Tetapi raksasa itu tetap saja punya tujuan akhir untuk membuatnya menderita. Sekarang lepas sudah segala penderitaan itu. Dalam kelelahan perjalanan itu Mandang Wulan mulai berbicara.

“Kini amanlah perjalanan kita Kanda. Bersyukurlah kepada Yang Maha Pengasih. Kita telah dilindungi dan diselamatkan”, kata Mandang Wulan.

Kemudian mereka meneruskan perjalanan menuu kampung halaman yang letaknya masih cukup jauh. Mandang Wulan sebagai putri seorang raja yang masa kecilnya hidup dan dibesarkan dilingkungan istana tidak banyak mengetahui perihal daerah di luar istana. Sehinga dalam perjalanan kerap kali dia bertanya kepada Jompong Suar tentang nama tempat, nama kampung atau nama desa yang dilaluinya.

Kangen dan rindu kampung halaman, rindu kepada ayah bunda, dan sanak saudara kian hari kian memuncak. Perjalanan yang sulit, jauh, dan melelahkan itu seolah tidak dipedulikan lagi. Lebih – lebih bahaya yang paling besar telah mereka atasi berdua. Mereka terus berjalan. Akhirnya mereka sampai di batas kota. Tiba – tiba Mandang Wulan bertanya kepada Jompong Suar.

 

“Kanda kalau boleh dinda bertanya di kerjaan mana gerangan tujuan kita sekarang dan siapakah pula paduka raja yang telah menjatuhkan hukuman itu”, tanya Mandang Wulan. Belum sempat Jompong Suar menjawab, Mandang Wulan melanjutkan lagi pertanyaan. “Bagaimana seandainya bambu yang Kanda persembahan ini ditolak oleh dang Paduka Raja, karena boleh jadi tidak serupa dengan bambu yang dimaksudkan?”,

Mendapat pertanyaan itu Jompong Suar terteguh. Memang benar, sekiranya paduka Raja menyatakan bahwa bukanlah bambu itu yang dimaksudkan, maka tentulah sesuai dengan janji baginda bahwa kepadanya akan diberikan hukuman yang lebih berat lagi. Namun hukuman itu tidak jelas dan tidak diketahui bentuknya. Jompong Suar menyadari bahwa Mandang Wulan sedang merisaukan nasib mereka berdua. Sekiranya Jompong Suar mendapat hukuman yang lebih berat tentunya Mandang Wulan akan mengalami nasib yang tidak jelas pula. Akankah dirinya dapat bertemu dengan ayah bundanya atau akan ikut dihukum oleh sang Raja sekiranya raja itu adalah raja yang kejam. Berbagai pikiran dan perasaan berkecamuk di dalam diri mereka. Atas pertanyaan Mandang Wulan kemudian Jompang Suar menjawab.

“Tenangkanlah pikiran dan perasaan dinda. Jangan terlalu dipikirkan berbagai nasib buruk yang mungkin kita alami. Bagiku sudah mantap karena dulu ketika menerima hukuman ini dari baginda Raja aku sudah berjanji kepada baginda Raja dan kepada diriku sendiri. Aku akan menanggung apapun akibat dari semua ini”. Kata Jompong Suar menenangkan hati Putri Mandang Wulan.

“Tidak Kanda, akupun akan ikut memikul tanggugjawab. Tak sampai hati dinda membiarkan Kanda menderita seorang diri. Bukankah kita telah berjanji untuk sehidup semati dan takkan berpisah lagi?” ucap Putri Mandang Wulan.

Mendengar itu Jompong Suar kemudian melanjutkan pembicaraan.

“Dinda, untuk langkah awal, sebelum menuju kepada baginda raja dimana kanda akan menyerahkan bambu ini, maka sebaiknya kita berdua meneruskan perjalanan menuju ke kampung halamanmu untuk mengantarkanmu kepada kedua orangtuamu.  Setelah itu barulah aku akan melanjutkan perjalanan menuju ke istana raja kami yaitu Paduka Raja Buntar Buana”, kata Jompong Suar.

Mendengar itu Mandang Wulan sangat terkejut bercampur gembira karena ternyata Paduka Raja yang menjatuhkah  hukuman kepada Jompong Suar untuk mencari bambu emas itu tidak lain adalah orang tuanya sendiri Raja Buntar Buana.
Langsung saja Mandang Wulan memeluk Jompong Suar.

Bersegeralah mereka menuju ke istana Raja Buntar Buana. Setelah mereka sampai ke pintu gerbang istana, Jompong Suar menjelaskan kepada para pengawal istana akan maksud dan tujuannya ke istana, dan mohon ijin untuk menghadap Paduka Raja Buntar Buana. Maka pengawalpun segera melaporkan kepada Baginda Raja akan adanya tamu yang bernama Jompong Suar berserta seorang gadis remaja yang cantik. Baginda Rajapun segera memerintahkan pengawal untuk mengijinkan Jompong Suar masuk ke istana. Akan halnya Mandang Wulan, tidak ada di antara pengawal yang mengenalnya karena telah setahun lebih sang putri ini menghilang. Mandang Wulan dan Jompong Suar juga mencoba menahan diri untuk tidak memberikan keterangan kepada siapapun tentang sang Putri.

Maka masuklah mereka keruang istana dimana Raja Buntar Buana berada disinggasana kerajaan itu. Di ruang istana telah ada pula permaisuri yaitu ibunda dari Putri Mandang Wulan. Disamping itu segenap menteri dan punggawa juga hadir Jompong Suar dan putri Mandang Wulan segerahlah duduk bersimpuh untuk mengatur sembah. Seluruh isi istana di ruangan itu menatap kepada Mandang Wulan, nampaknya permaisuri tergetar batin dan jiwanya seolah – olah anaknya yang hilang setahun lalu kini ada di hadapannya. Perasaan yang sama dialami juga oleh baginda Raja Buntar Buana dan seluruh unsur pemerintahan istana. Mandang Wulan menatapi kedua ayah bundanya itu. Nampaknya permaisuri tak kuasa menahan perasaanya untuk segera mengetahui siapa sebenarnya gadis yang berseta dengan Jompong Suar yang kini berada di hadapannya. Lalu permaisuri berucap.

“Kakanda Baginda Raja, sungguh wajah gadis ini sangat mirip dengan Putri kita Mandang wulan”, kata permaisuri.
Belum sempat baginda Raja menyahuti permaisuri, Mandang Wulan juga sudah tak dapat menahan haru.

“Benar Bunda Ratu dan Ayahanda Raja, hamba adalah Putri Mandang Wulan”, kata sang putri sambil menghambur memeluk kedua orangtuanya itu. Suasana jadi berubah penuh tangis keharuan. Mereka berpelukan penuh kebahagiaan. Putri yang menghilang lebih setahun lalu kini telah kembali. Maka segeralah tersebar berita itu ke seluruh pelosok kerajaan.

Raja Buntar Buana dan seluruh istana serta rakyat kerajaan sangat bersuka cita. Kini Jompong Suar yang dihukumnya telah berhasil melaksanakan hukuman dengan penuh tanggungjawab. Bukan saja bambu itu yang telah diperoleh oleh Baginda Raja, tetapi yang tak ternilai harganya adalah putri baginda Mandang Wulan telah pula ditemukan. Seluruh rakyat mengelu – elukan baginda Raja. Akhir cerita maka cinta kasih yang telah bersemi antara Jompong Suar dan Mandang Wulan segeralah mendapat restu dari baginda Raja dan Permaisuri berserta seluruh keluarga istana. Jompong Suar dianugerahi gelar ‘Pangeran’ dan dikawinkan dengan Putri Mandang Wulan. Mereka berdua kini hidup rukun penuh kebahagiaan.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.